JAKARTA – Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengaku terus mengikuti perkembangan dan dinamika pasar sambil melukis di Magelang, Jawa Tengah. Ia menilai dinamika pasar modal maupun uang saat ini memang kurang menggembirakan.
“Tetapi, saya berpendapat, tekanan ekonomi yang lebih berat masih dapat dicegah. Tentu something must be done. Kita masih memiliki political & economic resources. Opsi & solusi masih tersedia,” ujar SBY lewat akun X @SBYudhoyono, Selasa (12/5/2026).
SBY menekankan pentingnya seluruh pihak bersatu di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, pemerintah, dunia usaha, para ekonom, dan seluruh pemangku kepentingan harus berada di satu haluan.
“In crucial things unity. Mutual trust mesti dibangun bersama,” ujar SBY.
“Mari kita berikan kesempatan dan dukungan kepada pemerintah. Insya Allah Indonesia bisa,” sambungnya.
Pernyataan SBY muncul di tengah pelemahan rupiah yang terus berlanjut. Nilai tukar rupiah di pasar spot nyaris menyentuh level psikologis Rp17.500 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Selasa (12/5/2026). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka di posisi Rp17.479 per dolar AS, melemah 0,37 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.414 per dolar AS.
Pelemahan rupiah terjadi seiring tekanan terhadap mayoritas mata uang Asia terhadap dolar AS. Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 46,72 poin atau 0,68 persen ke level 6.858,90. Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak di rentang 6.762,88 hingga 6.977,29.