JAKARTA – Pemerintah Indonesia kembali menggaungkan “Semangat Bandung” di pentas global. Melalui Sidang Pleno ke-18 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-81 di New York, Indonesia menegaskan komitmennya dalam mendorong pembangunan berkelanjutan di benua Afrika melalui penguatan kedaulatan ekonomi dan kualitas sumber daya manusia (SDM).
Sikap tegas tersebut diutarakan oleh Wakil Tetap Republik Indonesia untuk PBB, Duta Besar Umar Hadi. Dalam sesi yang membahas progres transformasi dari New Partnership for Africa’s Development (NEPAD) menuju Agenda 2063 Uni Afrika tersebut, Umar memastikan posisi Indonesia yang akan selalu bersanding dengan negara-negara Afrika.
“Indonesia berdiri bersama Afrika sebagai mitra, berlandaskan solidaritas dan saling menghormati,” kata Dubes Umar Hadi melalui pernyataan yang diterima di Jakarta, Rabu.
Membuka pidatonya, Umar menarik ingatan sejarah pada pesan Presiden Soekarno dalam Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955. Pesan mengenai perjuangan bangsa Asia dan Afrika untuk menentukan nasibnya sendiri tersebut dinilai relevan dengan kondisi saat ini, di mana negara-negara di kedua benua semakin bertaji dalam menentukan arah pembangunan dunia.
Secara khusus, Indonesia memberikan apresiasi atas tren positif perekonomian Afrika yang diproyeksikan tumbuh mencapai 4,4 persen pada tahun 2025.
Bahkan, sebanyak 22 negara di kawasan tersebut ditaksir mampu mencatatkan pertumbuhan di atas 5 persen. Capaian ini dinilai sebagai fondasi yang kokoh untuk mewujudkan cita-cita Agenda 2063, yakni menjadikan Afrika sebagai benua yang damai, terintegrasi, dan sejahtera.
Tiga Prioritas Utama untuk Afrika
Di balik potensi dan kemajuan yang ada, Umar menyoroti sejumlah ganjalan yang masih menghambat laju perekonomian Afrika. Beberapa di antaranya meliputi tingginya beban biaya pinjaman, sempitnya akses pembiayaan untuk pembangunan, hingga kekayaan sumber daya alam (SDA) yang belum memberikan nilai tambah ekonomi yang optimal bagi negara pemiliknya.
Guna mengurai benang kusut tantangan tersebut, Indonesia menyodorkan tiga langkah prioritas.
Pertama, mendorong kedaulatan ekonomi melalui hilirisasi atau penciptaan nilai tambah pada kekayaan sumber daya nasional, mengadopsi pengalaman yang tengah dijalankan di Indonesia.
Kedua, memosisikan investasi SDM sebagai tulang punggung pembangunan berkelanjutan, yang dapat dieksekusi melalui jalinan kerja sama pendidikan serta pelatihan di sektor pertanian.
Adapun prioritas ketiga adalah merealisasikan Semangat Bandung ke dalam wujud kemitraan yang konkret, baik di bidang investasi, perdagangan, maupun program peningkatan kapasitas.
Jejak Kemitraan Konkret yang Terus Tumbuh
Dukungan Indonesia terhadap Afrika terbukti bukan sebatas retorika diplomatik. Dubes Umar menjabarkan bahwa dalam satu dekade ke belakang, ada sekitar 500 peserta dari berbagai negara Afrika yang telah memetik manfaat dari lebih dari 60 proyek Kerja Sama Selatan-Selatan dan Triangular yang diinisiasi Indonesia. Sektor yang disasar pun beragam, mulai dari kesehatan, peternakan, hingga teknologi pertanian.
Dari sisi kerja sama ekonomi makro, trennya terus menunjukkan grafik yang menanjak. Gelaran Forum Indonesia-Afrika edisi perdana pada 2018 sukses membukukan kesepakatan bisnis di kisaran 600 juta dolar AS.
Angka ini disusul dengan capaian Indonesia-Africa Infrastructure Dialogue pada 2019 yang meraup nilai lebih dari 800 juta dolar AS.
Momentum kemitraan strategis ini kian memuncak pada ajang Forum Indonesia-Afrika kedua yang digelar pada tahun 2024, di mana kedua belah pihak sukses mengunci 32 kesepakatan kerja sama di beragam sektor vital dengan total nilai fantastis menembus 3,5 miliar dolar AS.
Sumber: ANTARA