JAKARTA – Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem selama periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Peningkatan aktivitas masyarakat dinilai berisiko bersinggungan dengan kondisi cuaca yang tidak stabil di sejumlah wilayah Indonesia.

Pakar hidrometeorologi Institut Teknologi Bandung (ITB) Armi Susandi menjelaskan bahwa dinamika atmosfer saat ini dipengaruhi oleh keberadaan bibit Siklon Tropis 93S di Samudera Hindia. Meski pergerakannya menjauh dari Indonesia, dampaknya tetap signifikan.

“Siklon ini walaupun dia menjauh ke arah barat tetapi dia justru menarik massa udara yang bergerak dari barat ke timur khususnya Samudera Hindia,” ujarnya.

Tarikan massa udara tersebut, menurut Armi, berkontribusi pada peningkatan suplai uap air ke wilayah Indonesia bagian barat dan tengah. Kondisi ini memicu peningkatan intensitas hujan di sejumlah daerah.

“Menurut saya dia akan berdampak cukup besar (terhadap) peningkatan curah hujan di daerah Lampung kemudian sebagian besar di wilayah Jawa termasuk Nusa Tenggara,” katanya.

Meski demikian, Armi menilai dampak bibit siklon 93S tidak akan separah siklon sebelumnya. Ia membandingkannya dengan kejadian Siklon Senyar yang sempat memicu bencana besar.

“Walaupun demikian (dampaknya) ini tidak akan sebesar yang terjadi di akibat adanya siklon senyar ini menurut saya masih jauh jauh lebih baik,” ujarnya.

Namun, Armi mengingatkan bahwa faktor kerentanan wilayah menjadi aspek penting yang tidak boleh diabaikan. Kepadatan penduduk dan perubahan tata guna lahan memperbesar potensi risiko.

“Tetapi karena wilayah Jawa ini wilayah yang cukup padat penduduknya dan juga tata guna lahannya,” tuturnya.

Ia menambahkan bahwa dominasi kawasan perkotaan dibandingkan tutupan hutan membuat dampak cuaca ekstrem lebih terasa.

“Saya kira masih jauh lebih banyak perkotaan dibanding dengan hutan-hutan yang di Sumatera,” ujar Armi.

Kondisi tersebut, menurutnya, meningkatkan tingkat kerentanan wilayah Jawa terhadap bencana hidrometeorologi.

“Maka kerentanannya ataupun risikonya semakin besar sampai setidaknya tanggal 27 (Desember 2025),” terang Armi.

Selain hujan dan angin kencang, bibit Siklon Tropis 93S juga berpotensi memicu gelombang laut setinggi 1,25 hingga 2,5 meter di beberapa perairan.

Dampak ini diperkirakan dapat dirasakan di wilayah Bengkulu, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Nusa Tenggara.

Armi mengimbau masyarakat yang akan melakukan perjalanan selama libur Nataru untuk terus memantau informasi cuaca dan mengikuti arahan dari BMKG serta BPBD setempat guna meminimalkan risiko selama periode cuaca ekstrem.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *