JAKARTA – Bupati Tapanuli Tengah Masinton Pasaribu mengungkapkan bahwa bencana banjir bandang di wilayahnya dipicu oleh kerusakan lingkungan di kawasan hulu. Ia menilai alih fungsi lahan di wilayah perbukitan menjadi penyebab utama hilangnya daya dukung alam.

Masinton menjelaskan bahwa perubahan fungsi lahan terjadi secara masif dalam beberapa tahun terakhir.

“Dari hulunya ya kalau di hulu tadi tuh memang ada yang terjadi kalua saya melihat itu banyak yang beralih fungsi itu lahan di Tapanuli Tengah,” ujarnya pada Jumat (19/12).

Menurut Masinton, kawasan perbukitan seharusnya dipertahankan sebagai hutan alami. Ia menegaskan sejak awal telah menyuarakan penolakan terhadap penanaman sawit di wilayah hulu.

“Sejak awal saya ingin di hulu itu, perbukitan, tidak ditanami sawit. Biarkan aja itu harusnya jadi tanaman-tanaman hutan di sana aja,” katanya.

Ia menambahkan bahwa banjir bandang yang terjadi bukan hanya membawa air, tetapi juga material berat yang memperparah dampak bencana.

“Banyak banjir bandang itu kan bukan hanya sebatas air, tapi juga meliputi gelondongan kayu dan juga tanah dan pasir,” ujar Masinton.

Material tersebut, lanjutnya, menyebabkan kerusakan besar.

“Nah itu lah kemudian membuat seluruh sarana prasarana, rumah rusak bahkan korban jiwa menjadi besar,” katanya.

Masinton juga menyoroti pentingnya penegakan hukum dalam mencegah kerusakan lingkungan berulang. Ia menilai langkah aparat kepolisian perlu terus diperkuat.

“Menurut kami apa yang dilakukan kepolisian dalam hal ini mabes polri, harus didukung terus,” ujarnya.

Ia menekankan perlunya pencegahan dan penindakan tegas terhadap pelaku perusakan lingkungan.

“Harus ada upaya-upaya pencegahan, penindakan terhadap pelaku-pelaku yang memang dengan mudah tanpa memikirkan masa depan lingkungan membabat tanaman-tanaman di perbukitan tadi dan dialihkan menjdi tanaman sawit,” kata Masinton.

Menurutnya, dampak dari praktik tersebut kini dirasakan langsung masyarakat.

“Dan ini hasilnya, masyarakat mengalami dampak dari bencana ini,” lanjutnya.

Hingga kini, proses pemulihan masih menghadapi tantangan besar. Masinton menyebut sungai-sungai di wilayahnya masih dipenuhi material kayu.

“Sampai saat ini memang sungai-sungai kami masih dipenuhi dengan gelondongan-gelondongan kayu yang memang membutuhkan alat berat, enggak cukup dengan pekerjaan manual,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa penanganan membutuhkan alat berat dengan spesifikasi khusus.

“Alat berat ini juga dengan jenis spesifikasi yang bisa menjepit gelondongan kayu tadi dari tengah, dari dalam Sungai kemudian dipindahkan,” kata Masinton.

Menurutnya, pembersihan material kayu menjadi bagian penting dalam tahap pemulihan pascabencana.

“Sekarang proses pemulihan ini satu di antaranya membersihkan gelondongan kayu ini yang berada di Sungai, di tengah pemukiman warga kemudian yang merusak sawah dan lain sebagainya,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *