Berangkat dari Buku “Riah-Riuh Komunikasi”, IKA Fikom Unpad Kasih Solusi Komunikasi di Indonesia

ki-ka: Tenaga Ahli Madya Dewan Pertahanan Nasional Sabrang MDP, pengamat politik Rocky Gerung, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, Ketua Umum IKA Fikom Unpad Hendri Satrio, dan penulis Maman Suherman. (Dok. Rujakpolitik.com)

JAKARTA – Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran (IKA Fikom Unpad) kembali menggelar Executive Breakfast Meeting dengan judul “Riah Riuh Komunikasi” di Tribrata Hall, Jakarta Selatan, Senin (26/1/2025).

Judul tersebut diangkat dari buku terbaru analis komunikasi politik yang juga menjabat sebagai Ketua Umum IKA Fikom Unpad Hendri Satrio, di mana buku tersebut dijadikan acuan untuk pembahasan selama acara.

Hensa, sapaan akrab Hendri Satrio, mengatakan dalam pembukaan acara bahwa buku tersebut sudah ia tulis sejak Prabowo Subianto menjabat sebagai presiden.

“Semua dalam buku ini membahas sudut pandang saya melihat beberapa hal di Indonesia dari sisi komunikasi, dan pada akhirnya sepakat kita bahas di sini untuk mengawali EBM IKA Fikom Unpad di tahun 2026,” kata Hensa.

Ada pun narasumber yang hadir dalam acara tersebut adalah Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, pengamat politik Rocky Gerung, Tenaga Ahli Madya Dewan Pertahanan Nasional (DPN) RI Sabrang Mowo Damar Panuluh atau Noe Letto, dan budayawan sekaligus penulis Maman Suherman.

Masing-masing dari narasumber menyampaikan pendapatnya masing-masing tentang “Riah-riuh Komunikasi” yang menjadi tema acara kali ini.

Pramono misalnya, dalam sambutannya ia menyampaikan bahwa komunikasi bukan hanya sebagai ajang publikasi semata.

Pramono, yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina IKA Fikom Unpad, mengatakan seharusnya komunikasi bisa menjadi ruang dialog yang terbuka dan dua arah.

“Terutama bagi pejabat, komunikasi itu jangan dianggap sebagai publikasi saja, komunikasi itu harus menjadi ruang dialog yang terbuka dengan orang dalam,” ujarnya.

Ia berpendapat, dalam komunikasi terutama bidang birokrat, apa yang ingin disampaikan harus transparan kepada publik. Hal itu ia lakukan saat ini selama memimpin Jakarta.

“Komunikasi itu kan pilihan, memiliki ruang depan dan belakang, buat saya antara ruang depan dan belakang itu harus sama dan itu yang saya lakukan saat memimpin Jakarta saat ini,” katanya.

Rocky Gerung yang juga hadir sebagai pembicara pada acara ini memberikan pandangan lain soal komunikasi.

Menurutnya, komunikasi harusnya menjadi cara untuk berargumen dan menyamakan pendapat, terutama dalam bernegara.

“Komunikasi kan artinya mengaktifkan reason untuk memperoleh kesamaan argumentasi,” kata Rocky.

Sementara itu, Sabrang berpendapat bahwa komunikasi itu tidak hanya sekedar reaktif namun juga memiliki fakta yang akan disampaikan di dalamnya.

Di samping itu, ia juga mewajarkan jika komunikasi bukan alat yang dapat memuaskan semua pihak.

“Komunikasi memang bukan alat untuk memuaskan semua pihak, mungkin saja itu salah satu utilitinya, tapi utilitas utamanya kan menyampaikan informasi satu sama sama lain,” kata Sabrang.

Penulis Maman Suherman berpendapat, komunikasi seharusnya menjadi alat bagi satu pihak untuk mendengar lebih dalam ke pihak-pihak yang selama ini tidak terdengar suaranya.

Ia mencontohkan selama ini pejabat publik kerap kali di cap tidak akan menyelesaikan masalah jika tidak viral. Menurutnya, pejabat pun juga bisa memanfaatkan komunikasi untuk mendengar lebih dalam keluhan masyarakat.

“Komunikasi harus mulai mendengar yang tidak viral, karena kalau hanya ikut yang viral akan selamanya kita hanya mengikuti tren-tren di media sosial,” kata Maman.(*).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *