DAMASKSUS – Ketegangan bersenjata kembali menyelimuti wilayah timur Provinsi Aleppo pada Selasa (13/1). Pasukan pemerintah Suriah dan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin kelompok Kurdi dilaporkan saling terlibat baku tembak sengit, memicu kekhawatiran akan terjadinya eskalasi besar setelah bentrokan berdarah di pusat kota pekan lalu.
Insiden ini terjadi di tengah kebuntuan proses negosiasi antara Damaskus dan SDF mengenai teknis penggabungan ribuan pejuang Kurdi ke dalam struktur tentara nasional Suriah. Meski belum ada laporan mengenai jatuhnya korban jiwa, situasi di lapangan dilaporkan sangat fluktuatif.
Pemerintah Suriah telah menetapkan wilayah tersebut sebagai “zona militer tertutup.” Area ini merupakan garis depan sensitif yang memisahkan otoritas pusat dengan wilayah timur laut Suriah yang selama ini berada di bawah kendali SDF.
Dalam pernyataan resminya, pihak SDF mengeklaim bahwa pasukan pemerintah mulai menembaki distrik Deir Hafer.
“SDF mengklaim pasukan pemerintah telah mulai menembaki distrik Deir Hafer. Kelompok itu kemudian mengatakan pasukan pemerintah meluncurkan drone peledak, artileri, dan roket ke sebuah desa di selatan Deir Hafer,” tulis laporan tersebut sebagaimana dilansir AP.
Sebaliknya, televisi pemerintah Suriah menuduh balik pihak Kurdi sebagai pemicu serangan. Media negara menyebut bahwa SDF menargetkan desa Homeima di sisi lain garis depan Deir Hafer menggunakan drone peledak.
Ketegangan di timur Aleppo ini merupakan kelanjutan dari sengketa wilayah di lingkungan Sheikh Maqsoud dan Achrafieh.
Gubernur Aleppo, Azzam Ghareeb, menyatakan bahwa saat ini Damaskus telah memegang kendali penuh atas kedua wilayah tersebut setelah pejuang Kurdi sepakat untuk melakukan evakuasi pada akhir pekan lalu.
Namun, militer Suriah menuduh SDF tengah menghimpun kekuatan di dekat kota Maskana dan Deir Hafer untuk meluncurkan serangan balasan ke arah kota.
Kantor berita SANA melaporkan bahwa tentara menetapkan zona militer tertutup karena adanya “mobilisasi berkelanjutan” oleh kelompok bersenjata tersebut.
Pernyataan resmi tentara pemerintah dengan tegas meminta agar kelompok-kelompok bersenjata tersebut segera angkat kaki. Pernyataan tentara mengatakan kelompok-kelompok bersenjata harus mundur ke timur Sungai Eufrat.
Secara politik, situasi kian rumit karena melibatkan kepentingan internasional. Meski pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump memiliki hubungan dekat dengan pemerintahan transisi Suriah di bawah Ahmad Asy Syaraa, Washington juga merupakan mitra lama SDF dalam memerangi ISIS.
SDF kini merasa frustrasi terhadap Washington dan menuduh Damaskus tidak menjalankan kesepakatan integrasi militer yang ditandatangani pada Maret lalu secara adil.
Di sisi lain, faksi-faksi dalam tentara baru Suriah yang sebelumnya didukung Turki memiliki rekam jejak perseteruan panjang dengan pasukan Kurdi, yang membuat proses perdamaian di tahun 2026 ini berada di ujung tanduk.