“Prabowo Harus Hati-hati, Koalisinya Tengah Mengamati Kapan Harus Nikung”

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto tiba di Amerika Serikat (AS) pada Selasa (17/2/2026) pukul 11.55 waktu setempat. (Dok. Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden)

JAKARTA — Analis komunikasi politik Hendri Satrio mengingatkan Presiden Prabowo Subianto untuk mewaspadai dinamika di dalam koalisi pemerintahannya sendiri di tengah tekanan kondisi ekonomi yang kian berat.

Hensa, sapaan akrabnya, menilai bahwa orang-orang di sekeliling Prabowo saat ini bukan sekadar mitra politik, melainkan juga aktor-aktor yang tengah menunggu momentum.

“Kondisi ekonomi seperti ini, Pak Prabowo harus hati-hati, kan sekelilingnya orang politik,” kata Hensa kepada wartawan.

“Memang ya betul ada koalisi, tapi sekarang menurut saya koalisinya Pak Prabowo tuh juga lagi mengamati, lagi memperhatikan, kapan harus nikung di tikungan,” lanjutnya.

Ia bahkan menyebut ancaman itu tidak datang dari jauh. Untuk itu, menurutnya, Prabowo harus awas terkait sekelilingnya yang bisa saja menjadi lawan politik ke depannya.

“Harus hati-hati Pak Prabowo membaca teman-teman politiknya yang sebetulnya bisa jadi lawan politik, termasuk orang-orang yang dekat, misalnya yang dilantik bareng-bareng tuh,” ujarnya.

Di sisi lain, Henza juga menyoroti konsistensi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam membangun komunikasi dengan masyarakat.

Menurutnya, Gibran terus melakukan blusukan dan menyapa rakyat kecil di berbagai situasi.

“Wapres Gibran itu mau Selat Hormuz ditutup, mau ada serangan Israel Amerika Serikat ke Iran, dia tetap blusukan, nah jadi tetap dia berkomunikasi dengan rakyat kecil, just like his father,” kata Hensa.

Meski begitu, ia tidak menutup mata terhadap kemungkinan adanya skenario-skenario politik yang sedang berjalan.

Seperti misalnya, ia menyebut adanya narasi di sejumlah kanal yang secara terbuka membicarakan kemungkinan menaikkan Gibran untuk menggantikan Prabowo.

Ia menilai bahwa skenario pergantian presiden di tengah jalan itu kemungkinan tidak terjadi.

“Saya lebih memilih ganti presiden 2029 lewat pemilu, kalau di tengah-tengah seperti ada kasak-kusuk mengganti Prabowo dan menaikkan Gibran, saya memilih untuk tidak percaya. Mari kita jaga Indonesia,” pungkasnya.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *