LONDON ā Presiden sementara Suriah, Ahmed Al-Sharaa, memberikan pernyataan tegas mengenai arah kebijakan luar negeri negaranya di tengah dinamika global.
Ia menyatakan bahwa Suriah akan menjauh dari konflik apa pun, kecuali jika negara tersebut menjadi sasaran serangan langsung.
Hal ini disampaikan Al-Sharaa saat berbicara dalam sebuah acara yang diselenggarakan oleh wadah pemikir (think tank) Chatham House di London, Selasa (31/3/2026).
Ia menekankan bahwa Suriah saat ini tengah memusatkan seluruh energinya untuk proses pemulihan setelah didera perang selama bertahun-tahun.
“Tidak ada pihak yang siap terlibat dalam perang, dan kami tidak akan berpartisipasi di dalamnya, kecuali kami menjadi sasaran agresi dan kami tidak memiliki solusi diplomatik,” ujar Al-Sharaa di hadapan para peserta diskusi.
Prioritas Stabilitas Ekonomi
Dalam pemaparannya, Al-Sharaa menuturkan bahwa prioritas Pemerintah Suriah saat ini tetap tertuju pada penguatan fondasi internal.
Fokus utama kabinetnya adalah menstabilkan perekonomian nasional, membangun kembali infrastruktur yang luluh lantak, serta memfasilitasi pemulangan jutaan pengungsi ke tanah air.
Langkah ini diambil mengingat besarnya dampak kerusakan yang telah dialami Suriah dalam satu dekade terakhir.
Menurutnya, stabilitas domestik jauh lebih mendesak dibandingkan dengan keterlibatan dalam konfrontasi militer baru.
Menghargai Perdamaian
Lebih lanjut, Al-Sharaa merefleksikan betapa beratnya beban yang harus ditanggung rakyat Suriah akibat konflik yang berkepanjangan.
Ia mengisyaratkan bahwa memori tentang kehancuran masa lalu menjadi pengingat bagi pemerintah untuk tetap menjaga perdamaian.
“Kami telah cukup merasakan perang. Kami telah menanggung kerugian yang besar. Kami tidak siap menghadapi pengalaman perang lagi. Mereka yang pernah dilanda perang memahami betapa berharganya perdamaian,” tutur Al-Sharaa.
Sumber: ANTARA