JAKARTA – Gelombang demonstrasi besar-besaran bertajuk “No Kings” (Bukan Raja) meledak di seluruh Amerika Serikat pada Sabtu (28/3/2026). Aksi ini menjadi salah satu protes massa terbesar dalam sejarah negara tersebut.

Dari gedung pencakar langit New York hingga pelosok pedesaan Kentucky, jutaan warga turun ke jalan. Mereka menyuarakan pesan yang sama: Amerika adalah republik, bukan monarki.

Secara sosiopolitis, gerakan ini mencerminkan titik jenuh publik terhadap kepemimpinan Presiden Donald Trump yang dinilai melampaui batas konstitusional.

Data dari BBC menyebutkan lebih dari 3.000 titik aksi telah dikoordinasikan di 50 negara bagian, dengan estimasi massa mencapai 5 hingga 7 juta orang. Angka ini melampaui rekor demonstrasi mana pun dalam setahun terakhir.

Di Washington, D.C., kawasan National Mall hingga tangga Lincoln Memorial dipenuhi lautan manusia. Para demonstran membawa atribut simbolik, termasuk patung tiup raksasa yang menggambarkan Trump sedang menodai Konstitusi, serta replika kepala pejabat tinggi yang mereka tuntut untuk segera dicopot.

Gerakan “No Kings” bukan sekadar unjuk rasa biasa. Ini merupakan akumulasi kegerahan rakyat terhadap gaya kepemimpinan Trump yang dianggap otoriter dan dipengaruhi elite miliarder. Koalisi lintas sektor ini menyuarakan enam tuntutan utama:

  • Stop Kebijakan “Ala Raja”: Menolak segala tindakan presiden yang mengabaikan Kongres dan Konstitusi.
  • Hentikan Perang Iran: Mendesak AS menarik diri dari konflik berdarah di Iran.
  • Reformasi Imigrasi: Menolak razia agresif dan penahanan massal oleh ICE.
  • Tarik Aparat Federal: Mendesak penghentian militerisasi di kota-kota besar.
  • Lindungi Hak Sipil: Menuntut jaminan hak pilih dan kebijakan lingkungan yang pro-rakyat.
  • Atasi Biaya Hidup: Mendesak pemerintah fokus menangani inflasi yang membebani ekonomi warga.

“Saya bertugas dengan pemimpin sejati. Presiden ini bukanlah seorang pemimpin,” tegas Ken Wyben, seorang veteran perang asal New York yang ikut berdemo, dikutip dari TIME.

Aksi protes juga diwarnai kreativitas unik di berbagai kota. Di New York City, massa memenuhi Midtown hingga meluber ke Times Square hingga melumpuhkan lalu lintas. Di Austin, Texas, patung es bertuliskan “ES MELELEH DI TEXAS” dibiarkan mencair di bawah terik matahari sebagai simbol rapuhnya kekuasaan yang tidak berpihak pada rakyat. Sementara di Boston, demonstran mendirikan tugu peringatan untuk mengenang anak-anak yang tewas akibat serangan rudal di Iran yang melibatkan campur tangan AS.

Meski demonstrasi berlangsung masif dan tingkat kepuasan publik terhadap Trump merosot ke level terendah, respons Gedung Putih justru dingin. Seorang juru bicara menyebut aksi tersebut hanya sebagai “Sesi Terapi Gangguan Trump” yang hanya dipedulikan oleh media.

Para aktivis tidak berhenti di sini. Ezra Levin, pendiri Indivisible, telah menyerukan aksi mogok nasional pada 1 Mei mendatang.

“Kita akan hadir dan membuktikan bahwa kita lebih mengutamakan pekerja daripada miliarder dan raja,” seru Levin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *