JAKARTA – Eskalasi militer yang melibatkan koalisi Amerika Serikat dan Israel melawan Iran memicu kekhawatiran akan dampak ekonomi ke tanah air.

Pengamat geopolitik Fauzan Luthsa menilai, jika membedah sisi untung dan rugi, Indonesia berpotensi menghadapi tantangan besar pada ketahanan energi nasional.

Kekhawatiran utama muncul dari sektor minyak bumi, di mana Indonesia masih bergantung pada stabilitas harga global untuk mencukupi kebutuhan domestik.

“Lebih banyak kerugian bagi Indonesia terutama tekanan harga minyak. Persediaan minyak kita hanya 20 hari dan sebenarnya mengkhwatirkan,” ujar Fauzan.

Kondisi cadangan energi Indonesia ini dinilai sangat kontras jika dibandingkan dengan negara lain yang memiliki ketahanan lebih panjang.

“Jepang saja yang persediaan minyaknya berada di 250 harian sekarang cemas dan sekarang mereka sedang mencari alternatif,” tambahnya.

Peluang di Tengah Krisis Gas

Meski sektor minyak tertekan, Fauzan melihat Indonesia masih memiliki kartu truf melalui komoditas gas alam yang permintaannya diprediksi melonjak tajam.

“Keuntungan yang bisa diambil Indonesia adalah dari sisi penjualan atau ekspor gas alam,” ungkap Fauzan menjelaskan sisi positif dari konflik ini.

Menurutnya, pemerintah dapat mengambil langkah diplomasi bisnis yang ekstrem demi mengamankan pendapatan negara yang lebih besar dari pasar baru.

“Kita tinggal katakan force majeure, batalkan kontrak dengan Jepang, dan kita tinggal cari pembeli potensial lain dengan harga lebih tinggi, dan itu biasa dilakukan,” jelasnya.

Ketergantungan pada Sektor Ekstraktif

Fauzan menutup analisisnya dengan mengingatkan bahwa opsi ekonomi Indonesia sangat bergantung pada sejauh mana kita mengelola sumber daya alam yang ada.

“Karena memang bisnis utama kita adalah bisnis ekstraktif, hasil alam, gak bisa lebih dari itu. Jadi kita hanya bisa gas, tidak bisa yang lain,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *