JAKARTA — Analis komunikasi politik Hendri Satrio menyebut terdapat tiga nama yang berpotensi mendampingi Presiden Prabowo Subianto sebagai calon wakil presiden pada Pilpres 2029.
Ketiga nama itu adalah Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM), dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Pria yang akrab disapa Hensa itu menilai persaingan memperebutkan posisi calon wakil presiden bakal lebih sengit dibanding slot calon presiden itu sendiri. Sebab, menurutnya, kekuatan elektoral Prabowo masih jauh melampaui tokoh-tokoh lain yang ada saat ini.
“Pak Prabowo ini tinggal satu periode lagi, 2034 pasti selesai, dia harus pinter-pinter milih wapres. nah kalau intuisi politik saya, dia enggak bisa milih yang beda partai politik,” ujar Hensa dalam podcast YouTube Newlitics & Helmy Yahya Bicara.
Soal nama Seskab Teddy, Hensa menyebut banyak netizen dan publik yang menjadikannya sebagai sosok yang layak diperhitungkan. Posisi strategis dan juga kerap kali tampil di publik menjelaskan agenda-agenda pemerintahan menjadi salah satu nilai sendiri dari Teddy untuk dipertimbangkan.
“Letkol Teddy juga digadang-gadang, anyak netizen yang menyebut dia sebagai calon potensial mendampingi Prabowo karena ,” ujarnya.
Sementara untuk KDM, Hensa menilai Gubernur Jawa Barat tersebut memiliki daya tarik yang nyata, terutama karena basis dukungan publiknya yang besar.
Namun, ia menekankan bahwa peluang KDM sangat bergantung pada kesiapan Gerindra menjadi partai terbuka, yakni partai yang berani mengusung kader di luar lingkaran keluarga pendirinya.
“KDM-nya sendiri tidak masalah menurut saya. Tapi apakah Gerindra sudah siap menjadi partai terbuka? Itu pertanyaannya. Karena masih ada nama-nama dari lingkaran keluarga yang juga digadang-gadang,” kata Hensa.
Ia menambahkan, skenario paling ideal bagi KDM adalah dengan terlebih dahulu mendorong Prabowo maju sebagai calon presiden, sementara KDM mengambil posisi nomor dua.
“Paling ideal. Karena Gerindra tidak kehilangan apa-apa kalau KDM maju, karena ini kadernya dia juga. Belum lagi KDM itu disukai, dicintai masyarakat Jawa Barat yang basis pemilihnya sangat besar,” ujarnya.
Hensa juga mengakui tantangan KDM untuk posisi nomor satu. Dalam sejarah Indonesia, belum ada presiden yang berasal dari latar belakang Sunda atau dari luar Jawa, kecuali B.J. Habibie yang naik melalui pergantian jabatan, bukan kontestasi langsung.
“Tapi dengan kekuatannya KDM hari ini, menurut saya dia layak diperhitungkan oleh Pak Prabowo, apalagi kalau memang Prabowo ingin membesarkan Gerindra di 2029,” katanya.
Adapun untuk posisi calon wakil presiden, Hensa tetap menempatkan Gibran sebagai nama terkuat.
“Masih Gibran. Yang kedua saya menjagoin KDM, karena dari sisi partai politiknya pun masuk,” ujarnya.
Meski demikian, Hensa memberikan catatan penting soal skenario Prabowo-Gibran di 2029. Ia menilai pasangan itu, meski secara elektoral bisa terbilang kuat, sudah tidak lagi menjadi pilihan yang ideal secara politik.
Menurut Hensa, kehadiran Gibran di sisi Prabowo sejak 2024 bukan semata keputusan Prabowo, melainkan bagian dari desain politik Joko Widodo untuk mempersiapkan putranya itu sebagai calon presiden masa depan.
Artinya, menempatkan Gibran kembali sebagai wakil presiden di 2029 justru akan memperlambat laju Gibran menuju puncak kekuasaan.
“Kalau Prabowo bersama Gibran lagi di 2029, itu artinya Prabowo membesarkan Gibran. Memang mempersiapkan Gibran sebagai calon presiden,” kata Hensa.
Ia menambahkan, kepentingan Jokowi sejak awal adalah menjadikan Gibran sebagai presiden, bukan sekadar wakil presiden yang terus-menerus mendampingi orang lain. Semakin lama Gibran berada di posisi nomor dua, semakin besar risiko ia kehilangan momentum untuk naik sendiri.
“Prabowo kemungkinan tidak butuh Jokowi lagi untuk menang di 2029 karena dia adalah inkumben. Dia akan memilih cawapres yang tidak punya ambisi mengganggu posisinya dan elektabilitas Gerindra,” ujar Founder Lembaga Survei KedaiKOPI itu.