JAKARTA – Pemerintah membuka kemungkinan memangkas anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tahun ini dialokasikan Rp335 triliun. Opsi ini muncul sebagai salah satu skenario antisipasi jika lonjakan harga minyak mentah dunia akibat eskalasi konflik di Timur Tengah menyebabkan defisit APBN 2026 melampaui batas aman 3 persen terhadap PDB.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menyatakan belum menerima arahan resmi terkait pemotongan anggaran program prioritas Presiden Prabowo Subianto tersebut. Hingga kini, operasional BGN masih berjalan sesuai rencana semula.
“Sampai saat ini belum ada instruksi apa pun terkait dengan ini,” ujarnya, Minggu (8/3/2026).
Meski begitu, Dadan menegaskan BGN akan kooperatif terhadap setiap kebijakan fiskal pemerintah pusat guna menjaga stabilitas APBN di tengah ketidakpastian ekonomi global.
“BGN akan jalankan apapun putusan Presiden,” kata Dadan, dikutip Senin (9/3/2026).
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan pemerintah telah melakukan simulasi risiko (stress test) terhadap kemungkinan harga minyak dunia rata-rata mencapai 92 dollar AS per barel sepanjang tahun akibat konflik Iran dengan Israel dan Amerika Serikat.
Dari simulasi itu, defisit APBN berpotensi melebar hingga 3,6 persen terhadap PDB jika harga minyak bertahan di level tersebut.
“Kita sudah exercise kalau harga minyak 92 dollar AS selama setahun rata-rata, maka defisitnya jadi 3,6 persen lebih tadi,” kata Purbaya dalam agenda Buka Puasa Bersama di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Jumat (6/3/2026).
Untuk mencegah defisit membengkak, pemerintah menyiapkan langkah penyesuaian belanja, termasuk efisiensi anggaran pada sejumlah program, salah satunya MBG.
“Kalau itu kita akan melakukan langkah-langkah supaya itu tidak terjadi. Bisa penghematan di mana? Misalnya penghematan di MBG,” ujar Purbaya.
Purbaya menekankan penghematan tidak akan menyentuh anggaran utama MBG, khususnya penyediaan makanan bagi penerima manfaat seperti anak sekolah, ibu hamil, dan lansia.
Efisiensi lebih diarahkan pada belanja pendukung yang tidak langsung terkait penyediaan makanan.
“Yang jelas MBG programnya bagus, tapi kita ingin cegah kalau ada belanja yang tidak terlalu mendukung langsung makanan itu. Misalnya beli motor untuk seluruh SPPG atau pembelian komputer,” jelasnya.
Dengan situasi harga minyak yang terus melonjak tajam belakangan ini, tekanan terhadap APBN semakin nyata, meski pemerintah berupaya menjaga program unggulan tetap berjalan optimal.