JAKARTA – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan, banjir besar di Ibu Kota nyaris tak terelakkan tanpa campur tangan operasi modifikasi cuaca beberapa waktu lalu.

Pramono menegaskan, curah hujan yang melampaui 300 milimeter per hari berpotensi menciptakan banjir luar biasa jika tidak ada intervensi.

“Kalau dibiarkan 2 sampai 3 hari yang lalu itu Jakarta pasti banjir yang luar biasa,” ujar Pramono dalam acara Executive Breakfast Meeting IKA Fikom Unpad bertajuk “Riah Riuh Komunikasi”, Jakarta Selatan, Senin (26/1/2025).

Eks Sekretaris Kabinet itu menjelaskan, pada masa kepemimpinannya operasi modifikasi cuaca dilakukan hingga empat kali, jauh lebih sering dibandingkan praktik sebelumnya yang hanya sekali. Ia tidak merinci periode pelaksanaan operasi tersebut.

Usai diskusi, Pramono menyatakan banjir di Jakarta sudah mulai surut pada Senin, 26 Januari 2026. Namun, ia menyinggung kondisi berbeda di wilayah penyangga ibu kota yang masih terendam.

“Kenapa Jakarta, bisa ya? Mohon maaf karena memang fasilitasnya pasti lebih baik,” ujarnya.

Untuk penanganan banjir jangka menengah, Pramono berencana memulai normalisasi tiga sungai utama di Jakarta tahun ini, yaitu Ciliwung, Cakung Lama, dan Kali Krukut. Rencana itu melibatkan pemindahan warga yang bermukim di bantaran sungai.

Dana untuk normalisasi, menurut Pramono, sudah disiapkan meski ia tidak menyebutkan nominal pastinya.

“Keputusan politik sudah ada. Dana sudah disiapkan,” katanya.

Pramono menekankan, operasi modifikasi cuaca bukan solusi utama. Penanganan banjir di Jakarta harus dilakukan secara struktural melalui langkah seperti normalisasi sungai agar dampaknya lebih tahan lama.(jsn/sid).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *