JAKARTA – Ekonom sekaligus pengamat pasar modal Ferry Latuhihin mengkritik program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program unggulan pemerintahan saat ini. Menurutnya, anggaran program ini yang mencapai ratusan triliun rupiah dinilai tidak rasional dan berpotensi menjadi pemborosan besar.
Pernyataan Ferry Latuhihin ini diungkapkan dalam diskusi di kanal YouTube Hendri Satrio Official tentang gambaran ekonomi 2026, di mana menilai anggaran MBG yang mencapai ratusan triliun rupiah terlalu berlebihan sementara dampak nyatanya belum terlihat jelas. Program ini dinilai tidak efektif dalam meningkatkan gizi masyarakat secara signifikan.
“Fiskal crack ini memang jadi bencana dengan adanya MBG. MBG itu Rp328 triliun atau Rp370 triliun, luar biasa ini sementara gak ada hasilnya. Ini kalau menurut saya, maaf aja ya, kalau saya bilang ini program bancakan seputar Prabowo, ya. Yang menikmati itu, yang punya SPPG,” kata Ferry.
Lebih lanjut, Ferry menilai program ini sebaiknya dirasionalisasi dengan fokus hanya pada kelompok yang benar-benar membutuhkan, seperti di daerah tertinggal. Ia menghitung bahwa kebutuhan sebenarnya jauh lebih kecil, hanya sekitar Rp8 triliun, bukan ratusan triliun seperti yang dialokasikan saat ini.
“Nah, mendingan kalau menurut saya, MBG ini, ya, dirasionalisasi. Berikan kepada orang-orang yang memang benar-benar membutuhkan, daerah tertinggal. Ya kan, ya. Di sana, kan, kita cukup. Sebetulnya ini gak perlu ratusan triliun. Saya udah hitung. Paling perlu cuma Rp8 triliun,” kata Ferry.
Ia juga mengkritik bahwa dana besar untuk MBG justru mengorbankan sektor lain, termasuk pemotongan anggaran pendidikan, sementara manfaatnya lebih banyak mengalir ke pihak-pihak tertentu seperti penyedia dapur atau provider makanan.
Namun, Ferry berpendapat bahwa program MBG tetap mendapat kesempatan untuk dibuktikan hasilnya, meski ia juga mengingatkan agar ongkos kesempatan (opportunity cost) dari kebijakan ini tidak terlalu besar sehingga membebani fiskal negara secara keseluruhan.
“Jadi pesan saya satu lah, ya. Akui aja bahwa ekonomi kita tidak dalam baik-baik saja. Rasionalisasi MBG yang luar biasa memakan biaya sangat besar, loh. Sampai biaya pendidikan itu di-cut, loh ya. Nah, mendingan gaji guru dinaikin. Daripada ini MBG duitnya mengalir kepada mereka yang dapat kesempatan untuk buka dapur-dapur itu,” pungkas Ferry.