TEHERAN – Rumor kematian mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad akhirnya terbantahkan. Sosok yang dikenal sebagai ikon perlawanan itu dipastikan masih hidup dan dalam kondisi sehat setelah serangan udara besar-besaran oleh Amerika Serikat dan Israel mengguncang Teheran akhir pekan lalu.
Meski agresi militer yang dimulai sejak Sabtu (28/2/2026) menargetkan tokoh-tokoh kunci serta infrastruktur militer Iran, Ahmadinejad berhasil lolos dari maut tanpa cedera sedikit pun. Serangan presisi itu bahkan sempat nyaris mengenai posisinya.
Menurut laporan Anadolu Agency, seorang ajudan pribadi Ahmadinejad mengonfirmasi bahwa ia telah berkomunikasi langsung dengan mantan presiden tersebut. “Saya sudah berbicara dengannya. Semuanya aman,” ujar sumber itu kepada Anadolu, Rabu (4/3/2026).
Sumber tersebut mengungkap detail menegangkan: rudal gabungan AS-Israel menghantam bangunan pos pengawal keamanan Ahmadinejad di kawasan Narmak, timur laut Teheran. Ledakan terjadi kurang dari 100 meter dari lokasi Ahmadinejad berada. Serangan itu menewaskan seorang pengawal dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), tetapi Ahmadinejad sendiri tidak terluka.
Kehidupan Ahmadinejad yang lolos menjadi suntikan semangat bagi Teheran di tengah situasi genting. Mantan pemimpin yang dikenal sederhana dengan jaket murah itu merupakan musuh lama Israel dan Barat, dengan retorika kerasnya sejak menjabat 2005-2013, termasuk menyerukan penghapusan Zionis dari peta dunia dan mempertanyakan narasi Holocaust.
Bagi Washington dan Tel Aviv, menghabisi Ahmadinejad—meski ia tak lagi berkuasa—akan menjadi pukulan simbolis terhadap perlawanan rakyat Iran. Namun, fakta bahwa ia masih hidup justru memperkuat posisi moral Teheran, terutama setelah kehilangan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan yang sama.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengumumkan operasi ini sebagai upaya menghilangkan ancaman dari rezim yang disebutnya kelompok jahat, dengan alasan utama mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Serangan berlanjut ke berbagai kota seperti Qom, Isfahan, dan Karaj, sementara Pentagon menyatakan akan melanjutkan operasi selama beberapa hari untuk melumpuhkan kekuatan militer Iran.
Israel pun menutup wilayah udaranya, meliburkan sekolah, dan memerintahkan warganya berlindung di ruang bawah tanah. Dari Teheran, balasan langsung dilancarkan berupa hujan drone dan rudal balistik ke pemukiman Israel serta pangkalan militer AS di Qatar dan Kuwait.
Konflik ini terus membara, dan dunia menanti apakah eskalasi akan menyeret kawasan—atau bahkan lebih luas—ke dalam perang terbuka, sementara ‘Singa Teheran’ Mahmoud Ahmadinejad tetap berdiri di antara reruntuhan Narmak.