JAKARTA – Pasukan khusus Amerika Serikat berhasil menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dalam operasi militer mendadak di Caracas. Maduro kini dibawa ke New York untuk menghadapi tuduhan narkoterorisme di pengadilan federal.

Operasi ini menjadi puncak ketegangan panjang antara Presiden AS Donald Trump dan Maduro, yang telah berlangsung sejak masa jabatan pertama Trump. Penangkapan Maduro menambah daftar panjang pemimpin negara yang pernah ditangkap oleh AS, seperti Manuel Noriega dari Panama, Saddam Hussein dari Irak, hingga Juan Orlando Hernandez dari Honduras.

Kronologi Penangkapan

Maduro dan Cilia Flores diseret keluar dari kamar tidur mereka oleh pasukan AS saat tengah malam dalam keadaan tidur. Penggerebekan dilakukan oleh Delta Force, unit elite Angkatan Darat AS.

Menurut Trump, Maduro ditangkap di sebuah rumah yang disebutnya seperti benteng dan sangat dijaga ketat. Rencana awal adalah menangkapnya pada awal pekan, tetapi tertunda karena menunggu kondisi cuaca yang tepat.

Dalam wawancara dengan “Fox & Friends Weekend”, Trump menjelaskan detail operasi tersebut.

Setelah ditangkap, Maduro dan istrinya dibawa dengan helikopter ke kapal perang USS Iwo Jima, kemudian diterbangkan ke New York. Mereka tiba di pangkalan udara nasional Stewart sebelum akhirnya dibawa ke pusat tahanan Brooklyn menggunakan kendaraan khusus.

Maduro akan diadili di pengadilan federal Manhattan atas tuduhan narkoterorisme.

Latar Belakang Ketegangan

Sejak 2018, pada masa jabatan pertama Trump, muncul laporan bahwa Trump mempertimbangkan serangan militer terhadap Venezuela. Hal ini membuat Maduro meningkatkan kewaspadaan dan memerintahkan angkatan bersenjata siaga tinggi.

Beberapa media AS melaporkan Trump pernah menanyakan kemungkinan invasi Venezuela kepada penasihatnya. Maduro menilai hal ini sebagai upaya AS menguasai cadangan minyak Venezuela yang besar, terutama setelah kunjungan tokoh oposisi ke Gedung Putih.

Trump menganggap Maduro sebagai diktator sayap kiri yang korup, di tengah krisis ekonomi dan politik Venezuela yang berkepanjangan. Penasihat Trump menolak ide invasi karena risiko eskalasi konflik di Amerika Latin.

Trump tidak pernah mengakui kemenangan Maduro pada pemilu 2018 maupun 2024, dengan tuduhan kecurangan.

Ketegangan memuncak pada 2025, dengan pengerahan kapal perang AS ke pantai Venezuela pada Agustus, serta jet tempur F-35 dan helikopter ke Puerto Rico pada September. Militer AS juga menyerang kapal berbendera Venezuela, menewaskan 11 orang, yang diklaim sebagai operasi anti-kartel narkoba.

Trump bahkan menawarkan hadiah US$50 juta bagi yang menangkap Maduro.

Tuduhan Narkoba sebagai Alasan

Maduro dituduh memimpin “Cartel de los Soles”, yang ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh AS. Kartel ini diduga mendukung kelompok seperti Tren de Aragua dan Sinaloa.

Meski demikian, beberapa pihak melihat operasi anti-narkoba ini sebagai kedok untuk menggulingkan rezim Maduro, demi menguasai cadangan minyak Venezuela yang terbesar di dunia—303 miliar barel menurut data EIA AS.

Nasib Pemerintahan Venezuela

Sesuai konstitusi Venezuela 1999, Wakil Presiden Delcy Rodríguez akan mengambil alih kekuasaan eksekutif, diikuti saudaranya Jorge Rodríguez sebagai presiden Majelis Nasional, serta Diosdado Cabello sebagai menteri dalam negeri yang berpengaruh.

Trump menyatakan AS akan terlibat langsung dalam masa depan Venezuela. “Kami tidak bisa mengambil risiko membiarkan orang lain mengambil alih dan melanjutkan apa yang dia tinggalkan. Jadi kami sedang mengambil keputusan itu sekarang,” kata Trump dalam wawancara dengan Fox.

“Kami akan sangat terlibat dalam hal ini, dan kami ingin memberikan kebebasan bagi rakyat. Kami ingin, Anda tahu, memiliki hubungan yang baik. Saya pikir rakyat Venezuela sangat, sangat bahagia karena mereka mencintai Amerika Serikat. Anda tahu, mereka telah dipimpin oleh sebuah diktator atau bahkan lebih buruk,” tambahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *