JAKARTA — Analis komunikasi politik Hendri Satrio (Hensa) menyebut, nasib politik dari Anies Baswedan akan ditentukan di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029.
Sebab, Hensa menilai jalan yang kini tersedia bagi mantan Gubernur DKI Jakarta itu tidak ada yang mudah. Menurutnya, Anies harus memilih jalan tetap idealis atau pragmatis untuk tetap berada di konstelasi politik nasional.
“Anies ini pilihannya sekarang memang enggak enak, kalau idealis bisa jadi dia hilang dari percaturan nasional. Kalau dia pragmatis mungkin banyak pendukungnya gak suka,” kata Hensa kepada wartawan.

Menurut Hensa, Anies bisa saja menjadi idealis dan membesarkan partai besutannya, Gerakan Rakyat yang baru-baru ini ia luncurkan.
Namun, Founder Lembaga Survei KedaiKOPI ini mengingatkan bahwa partai tersebut masih harus melewati verifikasi Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebelum bisa mengusung calon presiden.
Proses itu, kata dia, tidak mudah dan membutuhkan biaya besar, belum lagi juga tantangan-tantangan politik yang akan ia hadapi selama membesarkan partainya tersebut.
“Enggak gampang (untuk membesarkan Partai Gerakan Rakyat), butuh biaya besar, belum lagi ada hantaman-hambatan politik kan, ini kan politik dan lawan-lawan politiknya Anies, kalau Anies mau maju kan enggak diem aja,” kata Hensa.
Bergabung dengan partai politik yang sudah ada
Sementara itu, Hensa berpendapat bahwa Anies bisa menjadi pragmatis dengan membuka kemungkinan dirinya bergabung dengan kendaraan politik yang sudah ada.
Menurutnya, ini menjadi pilihan mudah untuk Anies agar namanya tetap berada di peredaran politik nasional, meski juga bisa saja ia tak diusung sebagai capres melainkan sebagai wapres.
“Kalau dia pragmatis, 2034 nanti dia bisa berlaga. Jadi artinya kayak ‘ya udah lah gue jadi wakilnya siapa dulu gitu’, masuk dulu, membina lagi karir politiknya,” kata Hensa.
Ia pun mencontohkan, salah satu skenario yang memungkinkan adalah duet Kaesang Pangarep dan Anies Baswedan melalui jalur Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Selain berpasangan dengan putra dari Presiden ke-7, Jokowi yang dikenal dengan basis massa yang kuat, Anies dinilai bisa mendapatkan rekam jejak yang baik setelah gagal di Pilpres 2024.
“Kalau dia mau mendapatkan kekuatan Jokowi, ya Kaesang. Kaesang-Anies Baswedan misalnya, mungkin bisa juga kalau dia mau,” ujar Hensa.
Masih ada kesan “cari kerjaan”
Meski demikian, Hensa menegaskan bahwa rekam jejak politik Anies belakangan ini meninggalkan kesan kurang baik di mata sebagian kalangan.
Ia menyinggung manuver Anies yang sempat berencana maju di Pilkada Gubernur setelah gagal di Pilpres 2024, bahkan sempat diisukan akan pindah ke Jawa Barat apabila PDI Perjuangan mengusulkannya.
“Ingat waktu dia mau maju Gubernur pas dia gagal capres, bahkan sempat diisukan akan pindah ke Jawa Barat, bila PDI perjuangan mengusulkan, itu sebuah cerita yang enggak enak menurut saya, ini orang kayak cari kerjaan aja,” kata Hensa.
Hensa juga menyoroti rekam jejak Anies yang beberapa kali berganti afiliasi partai, sesuatu yang dinilai turut mempengaruhi persepsi publik terhadap konsistensi politiknya.
Kendati demikian, Hensa mengakui basis massa Anies masih ada. Tantangannya kini, menurut dia, bukan soal ada atau tidaknya pendukung, melainkan siapa yang mampu mengorganisasi dan membawa massa tersebut ke arena Pilpres.
“Sosok ini masih punya massa, iya. Tapi siapa yang membawa massanya dia kan, nah ini yang harus dipertimbangkan oleh Anies,” pungkas Hensa.