JAKARTA — Analis komunikasi politik Hendri Satrio atau Hensa menilai pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang meminta agar siswa tidak lagi dikerahkan untuk menyambut kunjungan pejabat sudah seharusnya dilakukan.
“Setuju itu apa yang disampaikan oleh Pak Prabowo untuk mengembalikan siswa-siswi kembali belajar, kembali ke sekolah dan tidak terlibat acara-acara seremonial yang sangat mungkin menyita jam belajar mereka,” ujarnya kepada wartawan.
Hensa, yang juga merupakan akademisi, menilai bahwa hal yang tampak kecil ini justru dapat berdampak besar terhadap kualitas pendidikan anak-anak.
“Yang seperti ini mungkin tampak seperti hal kecil, tapi bisa berpengaruh ke hal yang lebih besar. Pak Prabowo bisa jadi berharap mereka agar lebih fokus konsentrasi belajar saja dan tidak sibuk ikuti seremonial penyambutan itu sehingga bisa lebih fokus menerima pendidikan dan menjadi lulusan yang berkualitas,” lanjutnya.
Ia menghubungkan langkah tersebut dengan Asta Cita ke-4 yang mencakup penguatan pembangunan sumber daya manusia (SDM), salah satunya melalui pendidikan berkualitas. Permintaan Prabowo ini, menurut Hensa, menjadi wujud nyata sang presiden menjalankan asta citanya.
“Jika jam belajar anak-anak terus terganggu hanya untuk acara seremonial, maka cita-cita membentuk generasi emas yang unggul dan berdaya saing akan sulit tercapai,” tegas Hensa.
Lebih lanjut, Hensa menekankan bahwa contoh yang diberikan presiden harus menjadi standar baru bagi seluruh jajaran pemerintahan baik menteri, kepala lembaga, hingga kepala daerah seperti gubernur dan bupati atau wali kota.
“Yang paling penting, contoh ini harus menjadi standar baru bagi semua menteri, gubernur, bupati, wali kota, dan pejabat negara lainnya. Jangan lagi ada kultur ‘kegenitan’ pejabat yang merasa harus disambut meriah dengan barisan siswa, drum band, atau kerumunan massa hanya untuk memuaskan ego sesaat,” katanya.
“Kunjugan kerja itu semestinya substansial, memeriksa dan memastikan langsung program pemerintah serta mendengar keluhan masyarakat. bukan sekadar datang untuk difoto dan dipuja,” tambah Hensa.
Ia berharap jika seluruh pejabat mengikuti teladan ini, waktu belajar anak-anak akan terlindungi sepenuhnya dan fokus negara pada peningkatan kualitas SDM sesuai Asta Cita dapat terwujud di lapangan.
“Jika semua pejabat mengikuti teladan ini, maka waktu belajar anak-anak benar-benar terlindungi dan fokus negara pada peningkatan kualitas SDM seperti yang tertuang dalam Asta Cita akan terwujud nyata di lapangan,” tutup Hensa.