JAKARTA – Analis komunikasi politik Hendri Satrio menilai, seharusnya pejabat publik harus terlihat dekat dengan rakyat meski berisiko dicap pencitraan.

Hensa, sapaan akrabnya, berpendapat bahwa meski dicap pencitraan, pendekatan ke rakyat yang terlihat itu memang bagus dan tidak ada salahnya.

“Tidak ada salahnya seperti itu, kalau memang bagus dan bermanfaat buat rakyat, ya dituduh melakukan pencitraan juga tidak apa-apa,” kata Hensa kepada wartawan.

Hensa mencontohkan salah satunya momennya adalah ketika Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya yang membagikan Bantuan Hari Raya ke ojol di Stasiun Pasar Senin saat hendak melepas mudik gratis belum lama ini.

Baca juga: Momen Haru: Driver Ojol Menangis Saat Terima BHR dari Seskab Teddy

Ia berpendapat, momen seperti ini justru lebih ditunggu masyarakat ketimbang menunjukkan keahilan dan kemapuan namun berjarak dengan rakyat.

“Pejabat atau menteri lain bila ingin mencontoh juga tidak apa-apa, daripada hanya sekadar ngomong dan debat ke rakyat kan enggak level, mending dekat dengan rakyat seperti Teddy ini,” kata Hensa.

Saat ini, menurutnya, pemerintahan Prabowo sedang mengalami darurat komunikasi.

Ia melihat, para pejabat pemerintahan saat ini mayoritas tidak merakyat dan cenderung elitis kepada masyarakat.

“Bahkan satu waktu saya melihat ada satu pejabat yang ketika ditanya oleh rakyat malah diminta belajar. Ini bukan suatu jawaban yang diinginkan sebelumnya,” kata Hensa.

Menurutnya, saat ini masyarakat lebih butuh respon-respon yang cenderung dekat dan hangat dari pejabat publik.

Oleh karena itu, ia menyarankan sebaiknya mayoritas pejabat publik lebih berpihak kepada masyarakat seperti momen yang bagi-bagi ala Seskab Teddy.

“Makin jarang sih pejabat yang tertangkap bagi rejeki spontan, kalaupun ada biasanya setingan, walaupun setingan juga gak apa, asal berdampak,” tegas Hensa.

“Saat ini, kondisinya berjarak, dan momen-momen kedekatan dengan masyarakat itu lebih dibutuhkan, yang lagipula itu bisa dimanfaatkan untuk mendengar aspirasi mereka,” tambah penulis buku Riah Riuh Komunikasi ini.

Ia pun meminta agar pejabat publik juga berhati-hati dalam merespons pendapat-pendapat publik.

“Masyarakat itu saat ini sensitif dengan respon-respon elitis semacam itu, kondisi saat ini membutuhkan pejabat yang hadir untuk masyarakat meski memang berpotensi dicap pencitraan, tapi memang rakyat butuh bantuan,” pungkas Hensa.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *