JAKARTA — Analis komunikasi politik Hendri Satrio menilai kebijakan membuka istana kepresidenan untuk kunjungan anak-anak sekolah sebagai bukti nyata keinginan Presiden Prabowo untuk lebih dekat dengan rakyat.
Program yang diumumkan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya pada Selasa (7/4/2026) itu dinilai mampu membangun kedekatan emosional antara masyarakat dan institusi kepresidenan sejak dini.
“Ini langkah pemerintah yang bernilai tinggi, dengan membuka pintunya untuk anak-anak sekolah, pemerintah menunjukkan bahwa istana bukan milik segelintir orang saja, tapi milik seluruh rakyat Indonesia,” ujar Hensa kepada wartawan.
Ia juga menyoroti cakupan program yang tidak hanya terbatas di Jakarta. Seperti yang dikatakan Teddy, pemerintah berencana membuka delapan istana presiden di seluruh Indonesia, termasuk memfasilitasi kehadiran anak-anak dari luar Jawa.
Menurut Hensa, hal itu mengirimkan pesan keterwakilan yang penting bagi daerah-daerah yang selama ini merasa jauh dari pusat kekuasaan.
“Anak-anak di Sulawesi, Papua, atau Kalimantan juga berhak merasakan bahwa istana adalah rumah mereka. Kalau ini benar-benar dijalankan merata, dampaknya bisa sangat besar untuk membangun rasa memiliki terhadap negara,” kata Hensa.
Meski begitu, ia mengingatkan agar semangat merakyat ini tidak berhenti di satu momen saja.
Sebagai langkah awal, Hensa menilai program ini sinyal positif bahwa pemerintah serius membangun hubungan yang lebih hangat antara negara dan generasi mudanya.
“Keterbukaan semacam ini akan jauh lebih bermakna jika dijalankan secara konsisten dan berkelanjutan,” pungkas.(*)