JAKARTA – Pakar ekonomi dan analis pasar modal Prof. Ferry Latuhihin menilai prospek ekonomi Indonesia di tahun 2026 semakin suram, dengan pertumbuhan yang berpotensi jatuh di bawah 3 persen bahkan mendekati nol persen pada kuartal tertentu jika tren pelemahan berlanjut.
Dalam tayangan Podcast YouTube Hendri Satrio, Ferry bercerita bahwa pengangkatan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pada September 2025 memunculkan gelombang optimisme di masyarakat. Ia melihat saat itu banyak yang menganggap Purbaya sebagai “juru selamat” yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 6 persen melalui kebijakan likuiditas agresif.
Namun, Ferry melihat, realitas data ekonomi belakangan menunjukkan sebaliknya. Sentimen publik berbalik menjadi pesimis karena shortfall penerimaan pajak ratusan triliun rupiah, defisit anggaran yang nyaris menembus batas aman 3 persen PDB, serta daya beli masyarakat yang terus tergerus.
“Gini, Purbaya pada waktu diangkat dan memberikan narasi yang luar biasa, ‘saya hebat, saya bisa bikin lagi 6% pertumbuhan ekonomi’, sebetulnya itu udah suatu kesalahan yang fatal,” kata Ferry.
“Nah, Purbaya tidak menyadari itu dan memberikan janji-janji yang luar biasa bahwa ‘saya jago, ya kan? Saya hebat, saya bisa bikin ekonomi dengan memompa uang, likuiditas, ekonomi akan kembali menggeliat’. Ternyata uang yang dikucurkan pun ditarik lagi sekarang, kan ya?,” lanjutnya.
Ferry menegaskan bahwa akar masalah bukan pada kekurangan likuiditas, melainkan konsumsi domestik yang sangat lemah. Ia juga mengkritik kebijakan pengucuran dana besar ke perbankan yang akhirnya ditarik kembali secara bertahap yang menyebabkan kebingungan di kalangan bank Himbara.
“Dan pada waktu itu kan saya bilang, penyakitnya bukan di likuiditas, gitu loh. Itu kan terbukti dari adanya undisbursed loan, ya kan? Pada bulan September sampai 2735 triliun, ya kan ya? Atau bulan November 2500 triliun. Artinya duit tidak mengucur dari perbankan, ya kan?,” kata Ferry.
“Kenapa duit tidak mengucur? Orang bilang, debitor bilang, ‘bagaimana saya mau tarik kredit kalau nggak ada proyek yang memang bisa saya jalanin, ya kan? Bagaimana saya mau ekspansi kalau outlook ekonomi itu buruk’, gitu kan ya? Nah, inilah yang membuat Purbaya menjadi poor, ya kan? Kasian, gitu kan? Dari PUR menjadi POOR, gitu loh,” lanjutnya.
Ferry pun melihat ruang kebijakan fiskal dan moneter pun semakin terbatas. Fluktuasi rupiah yang sempat menyentuh hampir Rp17.000 per dolar AS, rencana utang mencapai 827 triliun, serta ketergantungan pada pembelian SBN oleh Bank Indonesia menandakan instrumen kebijakan sudah kehabisan ruang gerak.
Ia pun menyoroti prediksi lembaga internasional seperti Nomura yang memperkirakan defisit bisa mencapai 3,5 persen semakin mempertegas kekhawatiran.
“Outlook is quite gloomy. Nah, inilah yang boleh dibilang menakutkan Purbaya dengan janji-janjinya yang menurut saya overpromise, gitu loh ya,” tegas Ferry.
“Seharusnya pada waktu itu, kalau saya jadi dia, saya akan bilang, ‘my friend, saya dapat warisan ekonomi yang tidak baik-baik saja loh. Jadi kasih saya kesempatan untuk membenahinya.’ Nah, itu gentle. Ketimbang dia janji, ‘wah, pokoknya tahun depan ini bisa 6%, ya kan. Portal keempat nanti menggeliat.’ Apanya yang menggeliat, gitu kan ya,” pungkas Ferry.
Ferry menyarankan pendekatan yang lebih realistis dan humble, dengan mengakui kondisi warisan ekonomi yang tidak ideal serta fokus pada pemulihan fundamental secara bertahap. Tanpa koreksi kebijakan mendalam yang benar-benar mengangkat daya beli masyarakat, tahun 2026 berpotensi menjadi periode berat bagi perekonomian nasional.
“Yang kedua, monetary policy pun tidak mempan karena kita dijegel oleh dollar, ya kan? Nah, artinya apa di sini? Kalau konklusi saya, kuartal ketiga tahun ini, saya prediksi pertumbuhan ekonomi bisa kurang dari 3%, kalau mau jujur. Kuartal ketiga? Kuartal ketiga tahun ini. Nggak, tapi kalau kuartal ketiga, itu jauh lebih bagus dari prediksi Prof sebelumnya. Bisa 0%. Tapi ginilah ya, kalau ke sana terlalu jauh, tapi kurang dari 3% pun itu bisa jadi bencana, bos. Kenapa tadi? Masyarakat sudah tidak punya tabungan. Nyari pekerjaan susah. Bahkan PHK berguliran. Ya, sekarang ya. Lihat, ada lowongan untuk 2 orang saja, bos. Di setiap kesempatan, ya. Itu bisa ngelamar 100-200 orang dong. Itu ada di medsos ya. Semuanya bagaimana orang lari-larian mengejar pekerjaan, gitu loh ya. Jadi outlook is quite gloomy.” (Prof. Ferry Latuhihin)