JAKARTA – Ekonom dari Aliansi Ekonomi Indonesia, Talitha Chairunissa, menilai pemilih Indonesia, khususnya kalangan masyarakat umum (general public), sangat rasional dalam menentukan pilihan politik. Keputusan mereka didasari prinsip “what’s in it for me” atau manfaat langsung yang bisa dirasakan saat ini, bukan janji masa depan.
Dalam diskusi publik Lembaga Survei KedaiKOPI bertajuk “Mencari Sosok Pemimpin Ideal Indonesia: Apa Kata Rakyat?” pada Minggu (11/1/2026), Talitha mencontohkan dukungan besar terhadap program makan bergizi gratis (MBG) yang digaungkan Prabowo Subianto karena langsung menjawab kebutuhan masyarakat yang sedang “lapar”.
“Kalau ada pilihan A dan B, si B kasih uang sekarang meski latar belakangnya bermasalah, sementara A janji lebih baik tapi nanti, masyarakat akan pilih B. Ini sangat rasional karena ketidakpastian masa depan,” ujarnya.
Ia menyoroti praktik politik uang yang masih marak, seperti sedekah, uang transport, atau kontrak mengikat, yang dilihat sebagai norma strategi pemenangan. Talitha menyarankan perubahan insentif agar masyarakat melihat pemberian uang sebagai “bad signal” atau tanda buruk kualitas pemimpin.
“Kalau pemimpin benar-benar bagus, manfaatnya harus jangka panjang tanpa perlu dibayar di depan,” tambahnya.
Pernyataan ini merespons rilis laporan lengkap riset kualitatif KedaiKOPI bertajuk “Eksplorasi Kriteria Pemimpin Ideal Nasional” pada hari yang sama. Penelitian metode Focus Group Discussion (FGD) dilakukan pada 2-3 Desember 2025, melibatkan 30 responden beragam latar belakang—akademisi, NGO, mahasiswa, jurnalis, ibu rumah tangga, pengemudi ojek online, pedagang, pengusaha, ketua RT, dan guru—dengan komposisi 73,3 persen laki-laki dan 26,7 persen perempuan.
Founder KedaiKOPI Hendri Satrio (Hensa) menjelaskan riset ini untuk menginformasikan elit politik dan calon pemimpin tentang kriteria, kategori, serta kompetensi pemimpin yang diinginkan masyarakat.
“Riset ini tidak bicara tentang nama, tapi memberikan masukan kepada rakyat Indonesia tentang pemimpin ideal seperti apa, karakter, kriteria, dan isu yang dibawa,” kata Hensa.