NEW YORK – Indonesia menyampaikan duka cita mendalam sekaligus amarah yang meluap atas gugurnya tiga personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang bertugas sebagai penjaga perdamaian dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).
Pernyataan tersebut disampaikan Wakil Tetap Indonesia untuk PBB Umar Hadi saat membuka intervensinya dalam rapat darurat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) di New York, Selasa (31 Maret 2026) waktu setempat. Menurutnya, seluruh rakyat Indonesia merasakan kemarahan dan kehilangan mendalam atas peristiwa tersebut.
“Terima kasih karena telah memberikan kesempatan kepada kami untuk menyampaikan rasa duka, amarah, dan frustrasi 285 juta penduduk Indonesia. Kami yakin, perasaan ini juga dirasakan oleh seluruh warga dunia yang memandang pasukan perdamaian sebagai simbol harapan dan perdamaian,” ujar Umar, dalam keterangan resmi.
Umar kemudian menyebut satu per satu nama dan usia ketiga prajurit yang gugur sebagai bentuk penghormatan tertinggi. Mereka adalah Kapten Infanteri Zulfi Aditya Iskandar (33), Sertu Muhammad Nur Ichwan (25), dan Praka Farizal Rhomadon (27).
Ia menjelaskan bahwa Zulfi dan Ichwan gugur saat mengantar logistik di Bani Hayyan, sementara Farizal gugur saat menjalankan tugas di dekat Adchit Al Qusayr. Selain itu, lima prajurit Indonesia lainnya juga terluka, yaitu Lettu Inf Sulthan Wirdean Maulana, Praka Rico Pramudia, Praka Arif Kurniawan, Praka Bayu Prakoso, dan Praka Deni Rianto.
“Kami tidak dapat menerima terbunuhnya penjaga perdamaian tersebut. Ini adalah kehilangan besar bagi Indonesia dan juga kehilangan besar bagi kita semua,” lanjutnya.
Kemarahan Indonesia di forum internasional itu bukan tanpa dasar. Umar menegaskan bahwa para penjaga perdamaian menjadi sasaran serangan justru saat mereka menjalankan mandat yang diberikan oleh Dewan Keamanan PBB sendiri.
Oleh sebab itu, Indonesia mengutuk keras serangan-serangan tersebut dan menuntut agar jenazah para personel yang gugur segera dipulangkan dengan cara yang aman dan bermartabat. Indonesia juga meminta perawatan medis terbaik dan menyeluruh bagi kelima prajurit yang terluka agar dapat pulih dengan cepat.
“Serangan-serangan ini mencerminkan ancaman langsung terhadap perdamaian dan keamanan internasional dan mungkin merupakan bentuk kejahatan perang menurut hukum internasional,” imbuh Umar.
Dalam rapat tersebut, Indonesia juga menyoroti peningkatan serangan terhadap personel UNIFIL belakangan ini seiring memanasnya konflik di Lebanon selatan. Pemerintah Indonesia menilai serangan beruntun itu bukan sekadar insiden biasa, melainkan upaya disengaja untuk melemahkan mandat UNIFIL sesuai Resolusi DK PBB 1701 tentang gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah.
Indonesia pun mengecam serangan militer Israel yang dinilai telah melanggar kedaulatan dan integritas wilayah Lebanon. Meski demikian, Indonesia tetap menyatakan solidaritasnya dengan pemerintah dan rakyat Lebanon.