JAKARTA – Analis komunikasi politik Hendri Satrio mendorong sejumlah tokoh seperti Muhaimin Iskandar (Cak Imin), Zulkifli Hasan (Zulhas), hingga Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) untuk maju sebagai calon presiden pada Pilpres 2029.
Menurutnya, langkah itu tidak harus berorientasi pada kemenangan, melainkan sebagai investasi popularitas dan elektabilitas partai menjelang Pemilu berikutnya.
“Susah menang kalau lawan Prabowo di 2029, tapi kalau tidak maju, kehilangan momentum buat 2034, jadi maju ini sebagai investasi buat partai di 2034,,” kata Hendri Satrio, yang akrab disapa Hensa kepada wartawan.
Pendiri lembaga survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI) ini pun menilai, maju dalam kontestasi pilpres membawa keuntungan strategis tersendiri.
Menurutnya, ketika seorang figur tampil sebagai calon presiden atau wakil presiden, seluruh biaya kampanye dan eksposur kepada pemilih ditanggung oleh negara. Dengan begitu, nama mereka akan dikenal oleh seluruh rakyat Indonesia yang memiliki hak suara.
“Bayangkan, kalau anda maju sebagai calon presiden, calon wakil presiden, kampanye popularitas dan elektabilitas anda itu dibiayai negara. Negara yang ngeberesin, bayangkan semua rakyat Indonesia yang memiliki suara akan melihat anda di kertas suara,” ujarnya.
Meski demikian, Hensa mengingatkan bahwa para figur tersebut tetap perlu menjaga komunikasi yang baik dengan Presiden Prabowo Subianto.
Menurutnya, walau pun Prabowo sendiri pernah menyatakan secara terbuka bahwa siapa pun boleh maju di 2029 jika dikehendaki rakyat, para tokoh itu sebaiknya tetap meminta restu dan menyampaikan niat mereka dengan cara yang elegan, bukan semata-mata untuk mengalahkan Prabowo, melainkan demi keberlangsungan partai masing-masing.
“Jadikan saja ini investasi. Tapi ya itu, ngomong baik-baiklah sama Prabowonya, jangan sampai kemudian Prabowo menilai, ‘oh ini anak mau berkhianat, gitu’,” kata Hensa.
Hensa pun berpendapat, kemungkinan besar Prabowo akan memilih calon dari partainya sendiri atau non-partai jika dirinya ingin maju pada kontestasi Pilpres 2029 nanti.
Sebab, memberikan panggung untuk partai lain justru akan berisiko bagi partainya yaitu Gerindra pada kontestasi Pilpres 2034 nanti.
“Pak Prabowo ini tinggal satu periode lagi, 2034 pasti selesai, dia harus pinter-pinter milih wapres. nah kalau intuisi politik saya, dia gak bisa milih yang beda partai politik, karena dia dari Gerindra, kecil kemungkinannya dia ambil dari Golkar, dari Demokrat, dari PAN, dari PKS, karena ini nanti si wakil presidennya akan mendapatkan keuntungan luar biasa,” pungkas Hensa.