WASHINGTON DC, AS – Pejabat tinggi pemerintahan Amerika Serikat mengakui sistem pertahanan udara mereka tak mampu menangkal seluruh drone serang Iran dalam serangan balasan.
Pengakuan itu muncul dalam rapat tertutup dengan anggota Kongres di Capitol Hill, Selasa (3/3/2026), di tengah memanasnya konflik AS-Iran pasca-serangan gabungan AS-Israel ke Teheran dan sejumlah target di Iran sejak akhir Februari.
Drone serang satu arah Iran, terutama jenis Shahed, menjadi ancaman serius karena terbang rendah dan lambat, sehingga lebih sulit dideteksi serta dicegat ketimbang rudal balistik.
Dalam sesi tersebut, Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine menyatakan bahwa sistem pertahanan udara tidak akan mampu mencegat seluruh drone yang diluncurkan Iran.
Dua sumber yang hadir dalam rapat itu menyebut drone-drone tersebut “menimbulkan masalah yang jauh lebih besar dari yang diperkirakan sebelumnya.”
Meski demikian, pejabat militer AS berupaya meredam kekhawatiran anggota Kongres dengan menekankan bahwa negara-negara mitra di kawasan Teluk Persia telah menambah stok sistem pencegat untuk menghadapi ancaman drone.
Konflik semakin memanas setelah serangan AS-Israel menghantam instalasi militer Iran, termasuk yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dan sejumlah pejabat tinggi lainnya. Presiden Donald Trump menyatakan sebagian besar kemampuan rudal dan angkatan laut Iran telah dilumpuhkan, dengan tujuan menghentikan ambisi nuklir serta dukungan Teheran terhadap kelompok militan regional.
Di Kongres, pandangan terpecah soal durasi konflik. Senator Republik Tommy Tuberville menyebut kemungkinan keterlibatan AS berakhir dalam tiga hingga lima minggu. Namun Senator Josh Hawley mengkritik kurangnya kejelasan batas waktu, menyatakan “kedengarannya sangat terbuka tanpa batas waktu bagi saya.”
Pemimpin minoritas DPR Hakeem Jeffries dari Partai Demokrat menyoroti absennya penjelasan jelas soal pemicu perang, tanpa bukti ancaman langsung terhadap AS atau kepentingannya.
Senator Mark Kelly dari Arizona memperingatkan persediaan amunisi pertahanan udara AS bukan tak terbatas. “Kami tidak memiliki persediaan yang tak terbatas,” katanya.
Ia menambahkan Iran mampu memproduksi drone Shahed dalam jumlah besar, ditambah stok rudal balistik yang melimpah. “Iran memiliki kemampuan untuk membuat banyak drone Shahed, rudal balistik jarak menengah dan jarak pendek, dan mereka memiliki persediaan yang sangat besar. Jadi pada titik tertentu ini menjadi persoalan matematika—bagaimana kita mengisi ulang amunisi pertahanan udara dan dari mana asalnya,” ujar Kelly.