NEW YORK — Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memberikan peringatan keras terkait situasi keamanan di Timur Tengah yang kian memburuk.

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, menyatakan bahwa eskalasi militer yang terjadi saat ini telah mencapai titik yang sangat mengkhawatirkan dan mengancam stabilitas global.

Dalam sebuah pernyataan pada Rabu (25/3/2026), Guterres menyebut konflik di kawasan Timur Tengah kini sudah di luar kendali dan melampaui batas yang tidak dapat dibayangkan.

“Lebih dari tiga pekan berlalu, perang sudah di luar kendali. Konflik telah melampaui batas-batas, yang bahkan tak pernah dibayangkan oleh para pemimpin,” kata Guterres saat konferensi pers Dewan Keamanan (DK) PBB.

Desakan Jalur Diplomasi

Melihat kondisi yang semakin tidak menentu, Guterres juga mengatakan bahwa sudah saatnya untuk menghentikan eskalasi dan memulai upaya diplomatik serta kembali menghormati penuh hukum internasional.

Ia menegaskan bahwa kekerasan bersenjata tidak akan memberikan solusi jangka panjang bagi kedaulatan negara-negara di kawasan tersebut.

Guna meredam ketegangan, Sekjen PBB mengaku terus menjalin komunikasi dengan berbagai pemimpin dunia dan aktor kunci di Timur Tengah.

“Saya sudah berkomunikasi secara intens dengan semua pihak yang saya yakini dapat membantu mengakhiri konflik yang mengerikan ini,” katanya.

Dampak Serangan dan Kelumpuhan Ekonomi

Ketegangan ini bermula dari aksi militer besar-besaran yang melibatkan kekuatan global. Pada 28 Februari lalu, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran hingga menyebabkan kerusakan dan korban sipil.

Sebagai respons, Iran membalas dengan menyerang wilayah Israel serta fasilitas militer milik Amerika yang berada di Timur Tengah.

Konfrontasi ini tidak hanya berdampak pada jatuhnya korban jiwa, tetapi juga melumpuhkan jalur perdagangan energi dunia.

Eskalasi di sekitar Iran itu menyebabkan terhentinya lalu lintas secara de facto di Selat Hormuz.

Padahal, wilayah tersebut merupakan jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global, hingga berdampak pada ekspor dan produksi minyak di kawasan.

Jika blokade ini terus berlanjut, krisis energi dunia diperkirakan akan menjadi konsekuensi logis yang sulit dihindari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *