Kekecewaan mendalam tengah dirasakan oleh warga yang berniat mengunjungi Planetarium Jakarta di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini. Banyak masyarakat mengeluhkan betapa sulitnya mendapatkan tiket pertunjukan yang dijual secara daring melalui situs resmi. Kondisi ini membuat impian warga untuk menikmati edukasi astronomi harus terhambat oleh sistem yang dianggap tidak memihak pengunjung umum.
Berdasarkan laporan di lapangan, tiket pertunjukan tersebut ludes dalam hitungan menit setiap kali slot pemesanan dibuka. Kecepatan habisnya stok tiket ini dirasa tidak wajar bagi para calon pengunjung. Fenomena ini memicu gelombang protes di media sosial, di mana masyarakat mempertanyakan keandalan sistem pemesanan yang disediakan oleh pengelola.
Dugaan mengenai keterlibatan calo dalam proses pembelian tiket pun mencuat ke permukaan. Sejumlah warga merasa curiga bahwa ada pihak-pihak tertentu yang menggunakan metode otomatis atau “bot” untuk memborong tiket dalam jumlah banyak dalam waktu singkat. Hal ini menyebabkan masyarakat yang memesan secara manual selalu kalah cepat dan kehilangan kesempatan untuk berkunjung.
Kecurigaan masyarakat diperkuat dengan munculnya tawaran tiket dari pihak ketiga dengan harga yang jauh lebih mahal dibandingkan harga resmi. Praktik ini dinilai sangat merugikan, terutama bagi keluarga yang ingin memberikan hiburan edukatif bagi anak-anak mereka namun memiliki anggaran terbatas. Calo dianggap telah merampas hak publik untuk menikmati fasilitas milik pemerintah daerah.
Selain masalah kecepatan akses, warga juga mengeluhkan kurangnya transparansi mengenai jumlah kuota tiket yang tersedia setiap harinya. Tanpa adanya informasi yang jelas mengenai kapasitas kursi, publik merasa dibiarkan dalam ketidakpastian saat mencoba melakukan pemesanan. Hal ini menambah rasa frustrasi para pengunjung yang sudah berkali-kali mencoba namun selalu gagal.
Menanggapi keluhan yang viral tersebut, pihak pengelola Taman Ismail Marzuki diharapkan segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem ticketing mereka. Warga mendesak agar ada verifikasi yang lebih ketat, seperti sinkronisasi dengan identitas kependudukan (NIK), guna memastikan satu orang tidak dapat memborong tiket untuk tujuan komersial secara ilegal.
Kelangkaan tiket ini sangat disayangkan mengingat Planetarium Jakarta merupakan salah satu destinasi wisata edukasi favorit di ibu kota yang baru saja selesai direvitalisasi. Ketidaksediaan akses yang mudah dan adil dianggap mencederai semangat revitalisasi kawasan TIM yang seharusnya bertujuan untuk memberikan layanan publik yang lebih baik dan inklusif.
Ke depannya, masyarakat berharap Pemerintah Provinsi DKI Jakarta turun tangan untuk menertibkan dugaan praktik percaloan ini. Warga menginginkan sistem yang lebih adil dan terjaga keamanannya agar fasilitas edukasi tersebut benar-benar dapat dinikmati oleh khalayak luas, bukan hanya oleh segelintir pihak yang mencari keuntungan pribadi.