JAKARTA – Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono mengingatkan kadernya bahwa politik memiliki sisi kejam yang mampu menghancurkan reputasi seseorang yang telah dibangun selama puluhan tahun.

Dalam pertemuan dengan para kader di Kantor DPP Partai Demokrat, Jakarta Pusat, Senin (9/2/2026), AHY menyoroti bahaya politik kebohongan dan fitnah yang kerap menjadi senjata untuk memecah belah persatuan bangsa.

“Politik kebohongan, politik fitnah, politik yang juga pada akhirnya memecah belah sesama anak bangsa, pembunuhan karakter. Habis kita dalam sesaat, reputasi yang dibangun puluhan tahun bisa dihabisi oleh lawan politik. Kejam politik itu,” kata AHY.

Ia menekankan pentingnya kewaspadaan di tengah banjir informasi digital saat ini, di mana batas antara fakta dan hoaks semakin kabur.

“Kita tidak mudah membedakan mana berita benar, mana berita palsu, mana hoaks, mana fake news, mana yang memang benar-benar terjadi, karena memang era ini juga meniscayakan tsunami informasi mengisi ruang-ruang publik,” ujarnya.

AHY menyebut fenomena ini sebagai post-truth politics yang kini menjadi tantangan bagi semua partai politik, termasuk Partai Demokrat.

Karena itu, ia mengajak kader untuk terus melakukan refleksi dan mencari solusi agar bangsa tidak mudah terbelah akibat politik fitnah.

“Ini adalah realitas yang suka tidak suka, bukan hanya harus kita hadapi, tetapi mari kita terus mencari solusi yang terbaik agar bangsa ini tidak mudah terpecah belah akibat post-truth politics atau politik fitnah tadi,” tegasnya.

Selain itu, AHY juga memperingatkan bahaya politik identitas yang memanfaatkan perbedaan suku, agama, ras, dan etnis di tengah keberagaman Indonesia.

“Berbagai agama yang diakui, belum lagi aliran kepercayaan dan keyakinan. Belum lagi bicara suku, etnis, ras. Semua itu menjadi keberkahan karena perbedaan adalah sesuatu karunia, tapi sekaligus menyimpan kerentanan,” ucap dia.

Ia menegaskan bahwa Partai Demokrat konsisten menolak politik identitas yang berpotensi memecah belah bangsa, dan berharap kader tetap waspada serta tidak terpengaruh oleh narasi-narasi yang memprovokasi perpecahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *