JAKARTA – Politik dan ekonomi merupakan dua elemen penting dalam menentukan suatu kebijakan, baik untuk sektor pemerintahan mau pun swasta. Insight dari politik dan ekonomi diyakini dapat membantu suatu pihak menentukan arah bisnis ke depan berdasarkan realita di lapangan.
Executive Director Multimatics, Agus Setiawan mengatakan, dalam menentukan kebijakan, seluruh pihak baik pemerintah mau pun swasta harus menganalisa berdasarkan PESTEL.
“Apa pun bidang kita, dalam menganalisa suatu kebijakan itu ada namanya PESTEL yang di mana itu singkatan dari politics, economy, social, technology, environment, dan juga legal,” kata Agus, Jumat (6/2/2026).
Kali ini, Multimatics dalam acaranya bertajuk “Multimatics Consumer Appreciation Day” mengajak para pihak baik dari pemerintah dan swasta menggali insight arah bisnis ke depan dari perspektif ekonomi dan politik.
Acara yang digelar di JHL Solitaire Hotel, Tangerang Selatan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber seperti analis komunikasi politik Hendri Satrio (Hensa) dan ekonom Ferry Latuhihin.
Masing-masing narasumber memberikan insight serta outlook terkait keadaan politik dan ekonomi 2026 ini. Agus berharap, dari kedua narasumber ini para peserta bisa membuat keputusan yang lebih bijak dengan menggali insight dari outlook ekonomi dan politik negara saat ini.
“Mereka yang hadir pada acara ini diharapkan juga mendapatkan insight pada saat mereka membuat keputusan ternyata ada variabel yang lain semisal geopolitik, perang, tarif impor dan lainnya,” katanya.
Sementara itu, Hendri Satrio sebagai pengamat politik menjelaskan, kondisi perpolitikan Indonesia saat ini masih aman. Justru, kondisi politik akan memanas di tahun 2027-2028.
“Kalau di politik, menurut saya baik-baik aja. Kenapa baik-baik aja? Prabowo sedang berusaha merangkul semua pihak, yang kedua dia percaya kalau elit politiknya rukun, pembangunan bisa dilakukan, justru akan memanas di 2027-2028,” kata Hensa.
Founder Lembaga Survei KedaiKOPI ini mengatakan, politik di 2026 justru hanya akan dihiasi dengan fenomena-fenomena sesaat seperti reshuffle kabinet atau pun kebijakan-kebijakan yang memicu perdebatan.
“Tapi lagi-lagi, politik akan sangat dipengaruhi oleh ekonomi, hukum, dan komunikasi di tahun ini,” kata Hensa.
Berbeda dengan Hensa, Ferry Latuhihin berpendapat bahwa kondisi ekonomi 2026 justru tidak baik-baik saja. Ia memaparkan, pertumbuhan ekonomi kemungkinan tidak mencapai 3 persen tahun ini.
“Outlook ke depan ini saya khawatir, prediksi saya di bawah 3% dan kemungkinan sampai 0%, the economy is extremely mismanaged,” kata Ferry.
Ia pun mengatakan bahwa nilai tukar Rupiah ke Dollar AS pun akan melemah tahun ini. Tak tanggung-tanggung, ia memprediksi 1 Dollar AS akan menyentuh nilai sekitar Rp. 20.000 pada kuartal 3.
“Nah selebihnya, menurut saya ada kemungkinan besar dolar lari ke atas 20.000 pada kuartal 3, dan ini prediksi saya ya,” kata Ferry.