JAKARTA – Analis komunikasi politik Hendri Satrio (Hensa) menilai retret kedua Kabinet Merah Putih memiliki dua tujuan utama.
Diketahui, Presiden Prabowo Subianto menggelar retret kedua Kabinet Merah Putih di kediaman pribadinya di Hambalang, Bogor.
Berbeda dari retret pertama di Akademi Militer Magelang, Hensa menilai retret ini fokus pada evaluasi kabinet dan pengujian soliditas koalisi untuk menyambut 2026.
“Ada dua menurut saya. Yang pertama, memang untuk melakukan evaluasi kabinet, terutama di tahun baru, yaitu sekaligus menguji loyalitas kabinet juga. Tapi yang terpenting adalah bagaimana Pak Prabowo mengkonsolidasi kabinetnya lagi, untuk menyambut 2026, karena di tahun ini bukan tahun yang mudah juga,” ujar Hensa kepada wartawan.
Hensa juga menyoroti potongan pidato Presiden yang menyebut ejekan sebagai penghargaan.
Ia menilai bahwa pendekatan tersebut perlu dikaji ulang agar masukan kritis masyarakat dapat menjadi bahan perbaikan.
“Memang tergelitik kita bahwa dianggapnya ejekan itu adalah sebuah penghargaan, padahal belum tentu bahwa masukan kritis dari masyarakat seharusnya diterima sebagai masukan untuk memperbaiki, bukan dimaksudkan mengejek,” kata Hensa.
Lebih lanjut, Hensa menyarankan agar Presiden mulai menggeser paradigma kepemimpinan dari sekadar mendeskripsikan kondisi bangsa menjadi langkah nyata menggerakkan perubahan, terutama di tengah isu ekonomi rumah tangga dan gelombang PHK.
“Bagaimana menggerakkan keadaan itu? Tentu saja dengan mengubah apa yang terjadi hari ini di masyarakat. Tentang ekonomi keluarga misalnya, tentang PHK yang masih saja terus berlangsung,” kata Hensa.
Meski begitu, Hensa mengapresiasi penekanan Presiden pada upaya rekonstruksi dan rehabilitasi pascabencana di beberapa wilayah, yang dinilai mampu menenangkan publik yang selama ini menantikan langkah lanjutan pemerintah.
“Nampaknya presiden banyak sekali menyoroti tentang rekonstruksi dan rehabilitasi bencana di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Dan itu sangat baik sekali disampaikan dan tentu saja menenangkan,” kata Hensa.
Salah satu momen yang menjadi perbincangan adalah pernyataan Presiden yang viral di mana ia berguyon bahwa PKB harus terus diawasi.
Hensa memaknai hal tersebut sebagai bentuk guyonan wajar yang justru bertujuan memperkuat konsolidasi internal.
“Saya rasa ya itu pertanyaan guyonan yang wajar ya. Tapi kalau ditanya kemudian apakah loyalitas kabinet Pak Prabowo terjaga, saya rasa ini baru masuk ke tahun ke-2 atau ke-3 awal ya, saya rasa belum ada yang berani mbahlelo,” jelasnya.
Guyonan tersebut, lanjut Hensa, pada akhirnya justru mempererat barisan kabinet.
“Tapi yang jelas menurut saya itu guyonan berbentuk kelakar yang sebetulnya justru memperkuat kabinetnya Pak Prabowo itu sendiri,” ujarnya.
Hensa pun melihat retret Hambalang ini sebagai sinyal pra-reshuffle, di mana Presiden ingin mendapatkan gambaran langsung mengenai kekompakan dan loyalitas para menterinya di tengah berbagai kritik akhir-akhir ini.
“Justru saya melihatnya bahwa retret ini adalah pra-reshuffle kabinet, dan nampaknya juga Presiden ingin sekali mendapatkan gambaran kekompakan dari para kabinetnya dan loyalitas dari kabinetnya sendiri,” kata Hensa.
Meski demikian, ia berpendapat bahwa kemungkinan reshuffle tetap terbuka.
“Banyak yang mempertimbangkan apakah akan ada reshuffle, ya sangat mungkin juga. Tapi itulah ciri khas Pak Prabowo ya. Yang harusnya disentil tidak disentil tapi yang disentil itu belum tentu yang sebetulnya disentil,” pungkas Hensa.(*)