JAKARTA – Bencana banjir bandang dan longsor besar-besaran kembali melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera sejak 24 November 2025. Derasnya hujan yang dipicu fenomena cuaca ekstrem serta kerusakan lingkungan memperparah dampak bencana yang kini menelan puluhan korban jiwa.
Hingga 27 November, setidaknya 37 orang tewas, 52 masih hilang, puluhan mengalami luka-luka, dan ribuan warga terpaksa mengungsi dari 12 kabupaten/kota terdampak, termasuk Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, Sibolga, dan Humbang Hasundutan. Akses jalan, jaringan listrik, hingga komunikasi di berbagai titik turut terputus.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan hujan deras yang menyebabkan banjir besar dan longsor itu dipicu oleh Siklon Senyar.
Peneliti dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, menyebut Siklon Senyar sebagai peristiwa langka karena hampir tak pernah terjadi di wilayah khatulistiwa seperti Indonesia.
Sementara itu, peneliti Limnologi BRIN, Fakhrudin, menuturkan bahwa pembangunan masif turut memperparah efek hujan ekstrem karena membuat sungai mendangkal dan berubah bentuk.
Status tanggap darurat masih diberlakukan karena banjir belum surut sepenuhnya di sejumlah daerah, terutama di Tapanuli Tengah, Padang, dan Tebing Tinggi.
Di Sumatera Utara, jumlah korban tewas telah mencapai 48 orang dengan 88 masih hilang. Di Sumatera Barat, korban tewas berada pada kisaran 21–22 orang dengan 12 hilang.
Sementara itu, Aceh melaporkan 6 orang tewas dan 11 hilang, termasuk banjir baru yang melanda Atlas Padang pada Kamis pagi.
Proses evakuasi dan pencarian korban terus dilakukan oleh BPBD, TNI, Polri, Basarnas, serta relawan. Namun, upaya tersebut terkendala sulitnya akses lokasi dan lumpuhnya jaringan komunikasi di banyak titik, sehingga verifikasi data korban belum bisa dilakukan secara optimal.
Pemerintah daerah bersama pemerintah pusat kini memprioritaskan pemulihan akses, percepatan distribusi bantuan, serta pencarian korban hilang.
Pakar kebencanaan kembali menegaskan bahwa kombinasi cuaca ekstrem, deforestasi hutan Tesso Nilo, dan tambang emas ilegal telah memperburuk risiko longsor di wilayah Sumatera.