JAKARTA – Ekonom sekaligus analis pasar modal Ferry Latuhihin menilai melonjaknya popularitas Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai cerminan masyarakat yang sedang gundah dan kehilangan harapan, sehingga mencari figur penyelamat seperti Satrio Piningit.
Fenomena ini ia samakan dengan kebangkitan Presiden ke-7 Joko Widodo pada 2014, di mana ketidakpastian ekonomi membuat Jokowi tiba-tiba dianggap pahlawan.
Dalam wawancara di kanal YouTube Hendri Satrio Official, Ferry menjelaskan bahwa gaya komunikasi Purbaya yang sederhana membuatnya terlihat sebagai juru selamat di tengah kegelapan sosial-ekonomi.
“Gini, popularitas Purbaya ini kan adalah secermin daripada masyarakat yang tidak punya harapan,” ujar Ferry.
Ia menambahkan bahwa di balik kegemerlapan Purbaya, ada ketidakberdayaan masyarakat yang mendukungnya, karena ekonomi yang seharusnya baik tidak akan memunculkan figur seperti ini secara tiba-tiba.
“Ya kan ini kan figur Purbaya ini dengan gaya koboinya seolah-olah masyarakatnya menganggap, wah inilah juru selamat. Inilah Satrio Piningit. Kenapa dia bisa tiba-tiba popular figure yang from zero, tiba-tiba jadi hero. Karena tadi ketika masyarakat gundah, ketika masyarakat tidak punya harapan, dia mencari figure yang bisa memberikan harapan. Kan gitu. Jadi popularitas, dibalik popularitas Purbaya, sebetulnya men-support popularitas Purbaya adalah ketidakberdayaan masyarakat,” katanya.
Ferry menekankan bahwa jika ekonomi benar-benar baik, Purbaya tidak akan sepopuler sekarang.
“Jadi kalau dibilang ekonomi kita baik-baik, tidak mungkin kalau baik-baik Purbaya itu bakal popular,” tambahnya.
Fenomena ini mirip dengan Jokowi di 2014, saat masyarakat kehilangan pekerjaan, bergantung UMKM, dan tingkat pengangguran tinggi, sehingga figur sederhana seperti Jokowi dianggap penyelamat.
“Pada waktu Jokowi tiba-tiba istilahnya begini, pada waktu itu kan orang nyebutnya ini tukang mebel, bagaimana bisa jadi presiden? Tapi di tengah masyarakat yang gundah, yang tidak punya tabungan, susah nyari kerja, unemployment tinggi, informal sektor semuanya, mengandalkan UMKM, munculah satu figur yang dianggap ini Satrio Piningit, ini juru selamat, ini walaupun dia tukang mebel kan gitu. Jadi di balik gemerlapnya Purbaya, ada kegelapan dalam masyarakat,” jelas Ferry.
Ia menganalogikan situasi saat ini seperti kegelapan di mana satu korek api saja terlihat terang, menunjukkan betapa rapuhnya kondisi masyarakat.
“Di dalam gelap kan Anda menyalakan setitik korek api aja terang ya? Ya itulah analoginya. Nah kalau masyarakat ini terang semuanya, anda nggak mungkin cuma bisa dengan satu batang korek api Anda menyala. Kan gitu. Akibat ruang ini gelap, Purbaya datang dengan satu batang korek api udah terang lah Purbaya,” tutur Ferry Latuhihin.